Liputan Media

Menakar Kemampuan Kaligarang

Desember 10, 2016

Semarang sebagai kota metropolitan tak hanya menyimpan keriuhan tapi juga berbagai pembelajaran pengelolaan lingkungan perkotaan. Sebut saja rob, banjir, tanah ambles, abrasi, sanitasi, hingga pengelolaan sumber daya air. Termasuk pengelolaan DAS Kaligarang, salah satu sungai di Semarang yang menjadi sumber air baku bagi instalasi PDAM Tirta Moedal Semarang.

Sungai itu merupakan bagian dari tiga sungai utama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang, bersama Kali (Sungai) Kripik dan Kreo. Intervensi pertama terhadap Kaligarang terjadi pada masa Hindia Belanda melalui pembangunan Bendung Simongan dan Banjirkanal Barat tahun 1300-an. Waktu itu, Kaligarang difungsikan sebagai sistem pengendali banjir. Setelah Indonesia merdeka, sungai itu mendapat tambahan fungsi sebagai sumber bahan baku air minum.

Hal itu ditandai dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kaligarang I tahun 1959. Rencana tersebut tidak bersinergi dengan pola pembangunan wilayah, baik di Kota Semarang maupun di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal. Pola pembangunan wilayah juga membuat Kaligarang sebagai saluran air buangan, baik dari permukiman maupun industri di sepanjang aliran sungai-sungai di DAS Garang.

Tahun 1990 merupakan tonggak sejarah yang kembali membangunkan warga akan peran dan fungsi Kaligarang sebagai pengendali banjir mengingat pada tahun itu terjadi banjir besar. Banjir bandang itu bukan kali pertama karena juga terjadi tahun 1963, 1990, 2000, 2002, dan 2008. Namun kejadian 1990 paling membekas dalam ingatan warga.

Tahun 2010-2013 terwujudlah proyek normalisasi dan pembangunan Banjirkanal Barat untuk mengantisipasi banjir. Kanal itu didesain menjadi amenity atau kenyamanan, dan sejumlah kegiatan digelar di areal publik kawasan itu. Aliran sungai utama DAS Garang (Kali Garang, Kripik, dan Kreo) secara perencanaan tata ruang di tiga wilayah memiliki kawasan perlindungan setempat berupa bantaran sungai.

Seberapa efektif pola ruang tersebut dalam melindungi kondisi sungai? Bantaran dari tiga sungai utama tersebut masih terbebas dari peruntukan yang tidak seharusnya. Namun kondisi Kaligarang makin menurun, khususnya terkait dengan kualitas air. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

Pertama; aliran anak-anak sungai DAS Garang masih mendapat beban pencemaran yang terus berlanjut dari aktivitas domestik, industri, ataupun pertanian. Seluruh beban pencemaran itu terakumulasi di sungai utama, yakni Kaligarang.

Sedimentasi Tinggi

Kedua; belum teratasinya permasalahan erosi akibat terbukanya lahan sehingga sendimentasi tinggi di sungai itu belum teratasi. Pengendapan di badan sungai cenderung meningkat tiap tahun. Ketiga; normalisasi sungai yang dilakukan dengan membersihkan aliran sungai dari bebatuan kecil hingga besar mengurangi daya pulih Kaligarang.

Keempat; kondisi hilir Kaligarang yang cenderung landai juga menghambat proses aliran yang diperlukan dalam pemulihan kondisi sungai. Bahkan di beberapa titik, terutama pada musim kemarau, kondisi sungai itu menjadi anoksik atau memiliki kandungan oksigen yang sangat kecil.

Tantangan baru yang muncul, bagaimana air bersih bagi warga Semarang masih bisa terpenuhi dari Kaligarang. Sekitar 60% warga Kota Semarang saat ini memiliki ketergantungan pada PDAM sebagai sumber pemenuhan air bersih. Dalam 5 tahun terakhir, makin sering terjadi air yang mengalir ke konsumen tidak seperti diharapkan, bahkan kadang terhenti.

Akhir musim kemarau 2014 misalnya, merupakan puncak kondisi air Kaligarang yang sangat buruk karena kandungan oksigen sangat kecil, jauh di bawah baku mutu sumber air. Puncak musim hujan juga memberi tantangan untuk mengolah air minum karena air sungai itu sangat keruh akibat sedimentasi tinggi.

Kebutuhan masyarakat akan air bersih merupakan hal utama yang harus dijamin oleh pemerintah. Kaligarang merupakan pemasok air baku terbesar bagi PDAM Tirta Moedal Kota Semarang. Dengan makin terdegradasinya kondisi sungai itu masih mampukah untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga? (10)

— Arief Khristanto SHut, Direktur Yayasan Bintari

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *