Blog

Dorong Angka Daur Ulang, Bintari Melatih 50 Pegiat Bank Sampah Kota Semarang

Juli 5, 2019

Problematika pencemaran sampah plastik di laut salah satunya ditengarai disebabkan oleh adanya keterbatasan layanan sampah perkotaan serta adanya potensi kebocoran dalam sistem pelayanan sehingga sampah plastik berakhir dengan mencemari laut. Bank Sampah saat ini menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam mendorong pengurangan sampah. Namun demikian, kajian BINTARI menunjukkan kontribusi Bank Sampah dalam pengurangan timbulan sampah masih sangat rendah. Di Kota Semarang angka kontribusi tersebut adalah 0,18% dari total timbulan sampah Kota Semarang sebesar 1.200 Ton/ hari.

Rendahnya kotribusi Bank Sampah dalam pengurangan timbulan sampah tersebut ditengarai disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap jenis-jenis sampah (plastik) layak daur ulang, rendahnya kesadaran untuk memilah sampah bernilai, sistem dan manajemen Bank Sampah belum optimal dan dampak ekonomi yang kurang dirasakan oleh pengurus Bank Sampah. Selain itu, tantangan terkait dengan keterbatasan insfrastruktur dan fasilitas yang dimiliki juga memberikan pengaruh pada kinerja Bank Sampah.

Untuk itu, BINTARI mencoba merespon berbagai permasalahan, tantangan dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam mengembangkan Bank Sampah di wilayahnya masing-masing melalui kegiatan pembinaan, pendampingan dan berbagai pelatihan bagi pegiat Bank Sampah di Kota Semarang.

Bertempat di Hotel Amaris Jl. Pemuda Kota Semarang selama dua hari (3-4 Juli 2019), 52 pegiat Bank Sampah dari tujuh Kelurahan di Kota Semarang berpartisipasi dalam peningkatan kapasitas untuk bersama-sama meningkatkan kinerja Bank Sampah melalui Project PILAH yang merupakan bagian dari Municipal Solid Waste Management Program  (MWRP) USAID yang dilaksanakan BINTARI sejak 2018 hingga dua tahun ke depan (2020).

Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian pertama dari tiga tahap pelatihan. Setiap tahapan akan diikuti oleh peserta pelatihan secara indoor training dan praktik langsung dilapangan selama satu bulan. Pada tahap pertama ini, peserta dilatih untuk dapat mengelola dan mengembangkan Bank Sampah di wilayah masing-masing dengan lebih baik dan menguntungkan secara ekonomi. Materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut antara lain tentang pemilahan, pengumpulan, penjualan dan menjemen Bank Sampah. Dalam pelatihan tersebut, peserta Bank Sampah juga diarahkan untuk membuat rencana tindak lanjut (RTL) yang akan dilakukan pasca pelatihan.

Dua tahap pelatihan selanjutnya, memberikan fokus pada aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pengurus Bank Sampah dan pengembangan bisnis Bank Sampah.

Dari kegiatan pelatihan tahap pertama ini, diharapkan peserta pelatihan dapat mengedukasi pengurus Bank Sampah lain dan Nasabahnya untuk dapat menentukan pilihan dalam pengelolaan dan pengembangan Bank Sampahnya dengan lebih baik dan lebih menguntungkan berdasarkan kondisi dan karakteristik nasabah dan wilayahnya masing-masing.


Tag :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *