Berkat Sampah, Bisa Berkeliling Indonesia
Desember 10, 2016 By Arief Khristanto

Ketika mendengar kata sampah, bakal muncul kesan di benak kita barang yang kotor dan bau. Namun bagi Sri Ismiyati Surjadi, sampah bisa mendatangkan berkah jika dikelola secara baik.

Bahkan berkat sampah, Perempuan kelahiran Magelang, 24 Oktober 1950 itu bisa berkeliling Indonesia. Sri yang kini tinggal di Kinibalu Barat No 50, RT 01 RW 14, Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Semarang itu mulai bergulat dengan sampah sejak 2006.

Ismi bisa dikatakan sebagai pelopor daur ulang sampah organik dan anorganik di lingkungannya. Berbagai penghargaan telah dia terima. Contohnya, Green Award untuk katagori pelopor dan penggerak pengelolaan limbah plastik pada 2010.

Kemudian, Penghargaan Pengembangan Program Kampung Iklim dari Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA pada 2012 yang dia terima di Istana Wakil Presiden. Sejak saat itulah, Ismi bisa berkeliling Indonesia.

Banyk pihak yang memintanya menjadi narasumber, motivator, atau memberi pelatihan di bidang pengolahan sampah. Rumahnya juga sering didatangi warga asing, seperti dari Jerman, Amerika, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Mereka datang untuk membeli hasil kreasinya yang terbuat dari sampah, yakni tas, dompet, tikar, sajadah, tempat tisu, kotan makan, sandal hotel, dan buku agenda. Lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan perusahaan juga berdatangan untuk memberi dukungan terhadap aksinya.

Sebut saja Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Semarang, PT Marimas Putera Kencana, PT Sharp Elektronik, Bank Niaga, dan LSM Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari). Semua dukungan itu membuat semangat Ismi makin membara.

Terbukti saat ditanya apakah sudah bangga dengan apa yang dilakukannya? Ismi menjawab tegas belum bangga. ‘’Sekarang belum sukses. Saya akan bangga jika semua orang sudah melakukan, semua program berjalan dengan baik, dan kampung menjadi sangat bersih. Saat ini saya masih prihatin,’’ tutur Ismi.

Ibu dari Evi Febrian Surya, Evan Surya, dan Octora Lintang Surya ini pun menceritakan, dirinya mulai bergerak ketika menjadi Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Jomblang pada 2006.

Dia bersama warga prihatin melihat sampah yang menggunung di Sungai Bajak, Kelurahan Jomblang. Menggunakan karung goni, Ismi dan warga menyusuri sungai untuk mengambil dan membersihkan sampah.

Aksi tersebut diperhatikan LSM Bintari, yang kemudian mengajaknya ikut pelatihan kader lingkungan untuk masyarakat Jomblang. Kemudian terbentuklah paguyuban masyarakat peduli lingkungan hidup Kelurahan Jomblang bernama Alam Pesona Lestari (APL) pada 2007.

Ismi sampai sekarang didapuk sebagai ketua. Program pertamanya pembuatan kompos menggunakan keranjang takakura hasil kerjasama LSM Bintari dan LSM Kaita Kyusu dari Jepang. Sampah anorganik seperti plastik diubah menjadi produk kerajinan.

APL melakukan promosi dengan menggelar pameran. Paguyuban APL terus berkembang. Pada 2008 perusahaan minuman kemasan PT Marimas Putera Kencana mengajak paguyupan bekerja sama.

Pihak Marimas menyediakan sampah plastik untuk Paguyuban APL. ‘’Pesanan pertama 2.000 tas selama sebulan. Marimas membutuhkan sampahnya bersih, kami juga membutuhkan bahan bakunya. Jika hanya mengandalkan warung dan bank sampah tidak bisa memenuhi permintaan.

Bulan ini kami ada pesanan 600 tas. Dikirim ke Demak 350 tas, Kabupaten Semarang sisanya,’’ ungkap perias pengantin tersebut. Para penjahit yang diajak kerja sama tidak hanya dari Kelurahan Jomblang.

Ismi mempunyai binaan di Demak dan Yogyakarta. ‘’Mereka penjahit yang sudah ikut pelatihan.’’ Usaha Ismi tidak hanya mulus. Banyak rintangan yang harus dihadapinya, mulai dari komplain para suami hingga masalah dalam pembentukan kader.

‘’Para istri saat mengumpulkan sampah dikomplain suami. Sebab, sampah dikumpulkan di dalam rumah. Program kami setiap satu bulan sekali sampah itu dijual ke pengumpul sampah. Uang hasil sampah kami pakai untuk piknik.

Setelah itu, para suami menyadari, ada gunanya mengumpulkan sampah,’’ ungkapnya. Saat membentuk kader, Ismi menyadari jika mengubah perilaku orang yang sudah terbiasa membakar sampah, membuang sampah di sungai, mengubur sampah untuk tidak melakukannya sangat sulit.

Namun Ismi tidak menyerah. Kini para suami yang semula mengkritik juga ikut membantu mendaur ulang sampah. Bahkan para remaja dilibatkan. ‘’Sampah itu mendengar saja sudah malas, apalagi memegangnya. Memang sulit.

Saya kalau melatih 20 orang dan yang menjadi kader aktif hanya 2 orang, itu sudah termasuk bagus,’’ paparnya. Dia berharap tetap kuat dalam memberi edukasi sehingga masyarakat semakin peduli tentang sampah dan mau mengolahnya. ‘’Harapannya masyarakat mengubah perilaku terhadap sampah,’’ tandasnya.

Bank Sampah

Upaya mengubah sampah menjadi barang yang berguna juga dilakukan Sri Mulyani (40), warga RT 5 RW I, Kelurahan Plalangan Kota Semarang. Sejak 10 November 2011, perempuan dengan empat anak ini mulai merintis Kelompok Wanita Tani (KWT) Mulya Sejahtera dan dilanjutkan dengan membuat Bank Sampah Mulya Sejahtera.

Lewat kelompok, pengajar Matematika di SMA 1 Ungaran ini bisa mengembangkan banyak unit usaha, di antaranya mengelola sampah hingga mengajak warga menanam sayur dan buah organik di pekarangan atau halaman rumah. ‘’Semula yang ikut hanya 35 warga. Setelah itu, menjadi 85 warga.

Anggota, terutama ibu-ibu, aktif berperan mengelola sampah,’’ katanya. Semula, peraih penghargaan Perempuan Invovatif itu hanya ingin sampah tidak berserakan. Kemudian tercetuslah ide membuat kelompok dan bank untuk mengumpulkan sampah.

Karena itu, dia bersama warga, setiap Minggu pagi selalu menggalakkan gerakan menabung sampah di depan masjid setempat. Apabila dirata-rata, setiap tahun dihasilkan Rp 15 juta dari 150 nasabah. Setiap bulan, bank sampah yang dikelola Sri bisa menghasilkan 1 ton 43 kg sampah.

‘’Prinsipnya, kami berusaha mengurangi sampah yang akan dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA),’’ jelasnya. Supaya mudah, Direktur Bank Sampah Mulya Sejahtera ini memisahkan sampah menjadi tiga kategori, yakni layak buang, layak jual, dan layak kreasi.

Sampai saat ini, istri dari Subagyo (55) masih berkonsentrasi mengelola sampah layak jual. Setiap keluarga difasilitasi dengan kantong sampah khusus dan wajib memilah sampah sebelum diserahkan ke bank.

Uang dari hasil penjualan sampah serta penjualan hasil panen dan bibit tanaman organik ditabung dan dipakai untuk membiayai anak yatim/orang kurang mampu di Kelurahan Plalangan. Tabungan akan dibuka atau diberikan setiap Juli dan Desember setiap tahun.

Alasannya, bulan itu tahun ajaran baru sekolah dimulai. ‘’Saya masih punya tugas dua lagi, yaitu mengelola sampah layak buang dan sampah layak kreasi. Namun karena keterbatasan waktu, akhirnya harus dilakukan secara bertahap. Yang sudah berjalan, mengelola sampah layak jual,’’ paparnya.

Karena kiprahnya, ibu dari Nia Febriani (18), Melinda Okta Bella (15), Frida Kurnia Putri (9), dan Zulham Surya Hutama (6), tahun ini mendapat perhatian dari Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang. Dengan harapan, Kelurahan Plalangan, Gunungpati bisa menjadi bank sampah induk untuk Kota Semarang.

Bahkan di belakang eks-kantor Kecamatan Gunungpati dijadikan area percontohan pengelolaan sampah layak jual. Ke depan, dia ingin setiap rukun warga punya satu bank sampah. Dengan demikian, dia yakin permukiman dan lingkungan akan asri serta ekosistem terjaga. (Aristya K Verdana,Ranin Agung – 61)