Trash to Cash Kota Semarang (Analisis Bisnis Bank Sampah)

Bank sampah bukan merupakan inisiatif baru, kegiatan ini sudah dilakukan dibanyak kota di Indonesia utamanya di kota Malang, Yogyakarta, Jakarta. Karena keberhasilan yang dialami kota-kota tersebut, maka kota Semarang tertarik untuk mengimplementasikan inisiatif yang sama. Didalam pelaksanaannya Yayasan BINTARI yang bergerak pada isu-isu terkait lingkungan sejak tahun 1986 bekerjasama dengan Mercy Corps Indonesia melalui kemitraan dengan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (ISM) ingin melakukan kajian yang komprehensif terlebih dahulu untuk mendapatkan masukan dan informasi mengenai potensi pasar bank sampah, produk yang dapat di perjual belikan, dan potensi keberlanjutan Bank Sampah sebagai sebuah institusi profit. Pengelolaan bank sampah selain memberikan manfaat terhadap pengelolaan sampah lingkungan, juga memiliki potensi ekonomi yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang mengelola. Dalam pengelolaannya, bank sampah di lingkungan permukiman sering kali dikelola oleh kelompok masyarakat yang ada di permukiman itu sendiri dengan sistem voluntary atau sukarela. Baru-baru ini, di beberapa kota di Indonesia telah melakukan kajian terhadap manfaat bank sampah dari sektor ekonomi untuk meningkatkan minat masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah mereka. Kota Semarang dalam hal ini telah memiliki beberapa bank sampah, belum pernah melakukan kajian ekonomi terhadap adanya bank sampah tersebut sehingga belum diketahui manfaat bank sampah secara ekonomi bagi masyarakat itu sendiri. Dengan adanya kajian ekonomi potensi bank sampah ini, diharapkan dapat memberikan gambaran potensi pengelolaan bank sampah di Kota Semarang sehingga menjadi acuan dalam pembentukan bank sampah kedepannya di Kota Semarang.

Tahapan kajian meliputi; (1) Analisis Demografi, Sosial dan Budaya Masyarakat, (2) Profiling Pola Eksisting Pengelolaan Sampah, (3) Profiling Rantai Nilai dan Distribusi Samah Anorganik (Analisis Pasar) dan (4) Analisis Penerapan Bank Sampah yang meliputi Analisis SWOT dan Analisis Bisnis. Kajian dilakukan selama 3 (tiga) bulan yakni dari Bulan Juli-Oktober 2016.

Hasil kajian di menunjukkan bahwa; (1) Praktik Bank Sampah telah berkembang di Kecamatan Kelurahan, namun belum secara signifikan berkontribusi pada reduksi sampah dan menambah tingkat perekonomian masyarakat. (2) Terdapat cukup banyak usaha pengolahan sampah anorganik di Kecamatan Ngaliyan, namun masih belum terkoneksi satu sama lain. Fluktuasi harga sangat dinamis dan sepenuhnya bergantung pada kualitas. Masing-masing jenis sampah anorganik memiliki rantai pasar dan distribusi yang berbeda, (3) Bank Sampah secara bisnis dikatakan feasible dimana Biaya Investasi awal adalah sebesar Rp. 202.000.000,-, Biaya Operasional sebesar Rp. 12. 000.000,- per bulan dengan margin harga pembelian dan penjualan sampah sebesar Rp. 1.850,- per kilo untuk seluruh jenis sampah anorganik. Untuk mencapai keuntungan, maka Bank Sampah setidaknya harus menyerap hingga 14 ton sampah anorganik per bulan. Dengan demikian Bank Sampah dapat mencapai B/C Rasio sebesar 1,2 dan Payback Periode hingga 15 bulan. (4) Berdasarkan Analisis SWOT dan FGD Potensi Penerapan Bank Sampah di Kecamatan Ngaliyan, Pilot Project penerapan Bank Sampah akan dilakukan di Kelurahan Kalipancur melalui sinergisitas program Bank Sampah. Pilot Project akan mendukung aspek pendampingan dan peningkatan kapasitas sebagaimana dibutuhkan oleh penggiat Bank Sampah. Sementara itu, dua Kelurahan lain yang juga potensial adalah Kelurahan Tambakaji dan Kelurahan Wates.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *