Lingkup Kerja

1. Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sumberdaya Air

Permasalahan degradasi DAS merupakan salah satu permasalahan lingkungan klasik dan dinamis. Degradasi DAS dan permasalahan pengelolaan sumberdaya air selama ini dikelola secara sektoral sehingga seringkali menjadi bersifat mutually exclusive. Kami mencoba mengembangkan berbagai praktik terbaik di tingkat tapak, sekaligus membangun sinergitas para pihak untuk menemukan solusi bersama atas permasalahan degradasi DAS dan sumberdaya air.

2. Perubahan Iklim

Bekerja bersama masyarakat dan menghadapi permasalahan lingkungan, membuat kami menyadari bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang nyata. Bukan hanya bekerja dengan masyarakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui aksi mitigasi dan adaptasi, kami juga mempromosikan upaya menghadapi perubahan iklim kepada para pihak. Dalam banyak kesempatan, kami mendukung dan memfasilitasi pemerintah daerah untuk dapat menyusun strategi dan rencana aksi dalam menghadapi perubahan iklim.

3. Kesiapsiagaan Bencana

Keterlibatan kami dalam kebencanaan bermula sejak peristiwa gempa jogja pada 2006 silam. Peningkatan tren kebencanaan hidrometeorologis yang ditengarai juga merupakan dampak dari perubahan iklim mendorong kami untuk bergerak mendorong kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis bersama bencana.

4. Pengelolaan Pesisir

Pesisir merupakan wilayah yang sangat rentan. Wilayah ini secara langsung mengalami tiga tekanan secara langsung yakni dari pembangunan setempat, dampak dari wilayah hulu serta dampak dari perubahan iklim. Bukan hanya degradasi lingkungan, perubahan sistem sosial ekonomi masyarakat setempat seringkali terabaikan. Kantong kumuh dan kemiskinan seringkali ditemui pada wilayah pesisir khususnya perkotaan.
Hampir satu decade kami bergerak di dalam pengelolaan pesisir dimulai dengan aktivitas rehabilitasi mangrove serta pengembangan ekonomi masyarakat setempat berdasar prinsip penghidupan berkelanjutan. Pengembangan ekosistem mangrove yang terpulihkan sebagai destinasi eko eduwisata serta peningkatan rantai ekonomi hasil pesisir berbasis masyarakat merupakan pendekatan yang kami lakukan.


5. Pengelolaan Limbah dan Sampah

Pencemaran lingkungan oleh limbah dan sampah merupakan permasalahan lingkungan yang selalu berkembang dan membutuhkan berbagai inovasi untuk menjawabnya. Kami telah bekerja untuk sector ini dan berupaya mengembangkan berbagai metode sesuai dengan konteks dimana permasalahan tersebut muncul. Skala pengelolaan, kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat menjadi pertimbangan kami membangun upaya pengelolaan sampah bersama masyarakat. Berbagai upaya peningkatan kesadaran dan kapasitas juga kami lakukan agar para pihak semakin memiliki kepedulian dalam menangani permasalahan ini.

Pendekatan

1. Konservasi Berbasis Masyarakat (Community Based Conservation)

Konservasi merupakan aspek utama dalam pembangunan berkelanjutan, dimana aspek perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan dilakukan secara berimbang. Masyarakat hendaknya selalu diperkuat kesadarannya sebagai subjek utama konservasi sekaligus penerima manfaat maupun dampak dari aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan.

2. ESD (Education for Sustainable Development)

Edukasi menempati unsur terpenting dalam pendekatan kami bekerja dengan para pihak. Bagaimana masyarakat dan stakeholder merekonstruksi pengetahuan bersama atas permasalahan yang lebih kontekstual dengan kondisi setempat merupakan kunci atas keberhasilan solusi yang dipilih.

3. Participatory Research

Untuk memahami apa yang sedang terjadi, menyampaikan dinamika yang sedang berkembang, mengembangkan inovasi dan mendokumentasikannya, Bintari melakukannya melalui berbagai riset. Riset partisipatif menjadi pilihan Bintari karena melalui pendekatan ini para pihak yang terkait dalam penelitian juga dapat memiliki pemahaman atas kondisi mereka. Selain itu, pendekatan ini lebih mendukung upaya perencanaan di tataran praktis.

4. Local Economic Development

Upaya penyelamatan lingkungan seringkali tidak berkelanjutan akibat adanya benturan dengan kepentingan ekonomi. Belajar dari situasi tersebut, Bintari mencoba mengembangkan pendekatan bisnis lingkungan-sosial yang bersifat local dalam rangka menyelesaikan permasalahan lingkungan.

5. Supporting Government

Kepedulian pemerintah terhadap lingkungan dan pembangunan berkelanjutan yang semakin meningkat mendorong Bintari untuk terlibat aktif dalam program pemerintah yang sesuai dengan visi dan misi Bintari. Saat ini, Bintari aktif terlibat dalam pengembangan Sekolah Adiwiyata, Kalpataru, Proklim, Kelurahan Sehat, Pokja AMPL dan Kelompok Kerja Mangrove baik di tingkat Kota/ Kabupaten maupun di Provinsi Jawa Tengah.

6. Facilitating CSR

Bintari seringkali mengintegrasikan aktifitas CSR dari sector swasta dalam lingkup aktivitas yang sedang dilakukan oleh Bintari.

Inisiatif

1. Watershed Leadership Program

Kami memandang bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan wilayah alami yang menyangga sistem ekologis dan social masyarakat. Pengelolaan DAS seringkali bersifat lintas batas administrative, lintas sektoral serta lintas bidang keilmuan. Kerusakan DAS yang terjadi merupakan resultan dari inharmoni akan ketiga factor tersebut.
Bintari merancang sebuah aktivitas training untuk meningkatkan kapasitas para potensial leader mengenai hal-hal yang diperlukan dalam melakukan pengelolaan DAS.
DAS Garang merupakan DAS pertama yang menjadi focus pembelajaran. Garang Watershed Leadership Program (GWLP) merupkan nama yang dipilih. Peningkatan kapasitas personil baik softskill berupa leadership, manajemen dan publikasi serta hardskill berupa hidrologi dan sistem informasi geografis. Aktivitas GWLP menyatukan berbagai stakeholder dalam pengelolaan DAS untuk bersama-sama belajar meningkatkan pemahaman dalam berbagai topic terkait.
GWLP merupakan sebuah siklus yang dimulai dari analisis stakeholder pengelolaan DAS, training needs assessment, participatory curriculum development, training dan penyusunan prototype action.
DAS Garang merupakan piloting untuk aktivitas ini, namun pola ini sangat dapat diterapkan untuk lokasi DAS-DAS lainnya.


2. Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Perubahan Iklim (Peka Iklim)

Komitmen Pemerintah Nasional untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi perubahan iklim baik melalui aktivitas mitigasi gas rumah kaca dan adaptasi perubahan iklim masih menemui berbagai tantangan. Pada tataran teknis, penghitungan jumlah emisi gas rumah kaca masih merupakan hal baru bagi pemerintah. Pada tataran kebijakan, mengintegrasikan jumlah emisi gas rumah kaca sebagai salah satu indicator dalam capaian pembangunan juga memerlukan rekognisi yang baik dari personil pemerintah daerah. Melalui Peka Iklim, Bintari memfasilitasi pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitasnya dalam melakukan mainstreaming perubahan iklim dalam agenda pembangunan daerah.
Profil emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim yang dihasilkan dalam aktifitas ini menjadi basis bagi daerah dalam menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) dalam perubahan iklim baik untuk mitigasi maupun adaptasi.


3. River Race and Inventory Survey Competition

Sungai merupakan ekosistem yang sangat dinamis dan memerlukan pemantauan berkelanjutan. Seringkali pemantauan kondisi sungai yang dilakukan oleh pemerintah terbatas pada indicator yang telah ditentukan, namun belum menangkap penyebab maupun dinamika yang terjadi di daerah sekitar sungai tersebut. Di sisi lain, edukasi mengenai sungai dan dinamikanya tidak dilakukan kepada masyarakat.
Bintari memadukan kedua hal tersebut dengan satu aktivitas River Race and Inventory Survey Competition. Kelompok-kelompok pecinta alam dan aktivis lingkungan bersama-sama melakukan monitoring kualitas sungai, inventarisasi biodiversitas sungai dan riparian serta melakukan observasi mengenai dinamika yang terjadi di sekitar sungai baik ekologis maupun social. Kesemua aktivitas tersebut dilakukan dalam kemasan kompetisi.


4. Home Composter “Keranjang Takakura”

Mengolah sampah dari sumbernya merupakan prinsip yang tidak lagi dapat ditawar dalam mengatasi permasalahan sampah khususnya dari sampah rumah tangga. Wilayah perkotaan menjadi salah satu penyumbang timbulan sampah terbesar. Terbatasnya lahan pemukiman perkotaan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah yang juga merupakan jumlah perduduk dengan persentase yang cukup besar di perkotaan memerlukan metode khusus dalam menangani timbulan sampah khususnya sampah organik.
Home composter “keranjang takakura” merupakan salah satu metode yang cukup praktis dan efektif dalam menangani timbulan sampah organic skala rumah tangga.

Project History

Konservasi DAS dan Sumberdaya Air
  • Studi Pengembangan Sistem Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang, kerjasama dengan Bappeda Kota Semarang, 2001
  • Bersih Gunung Ungaran dengan melibatkan Pecinta Alam SMA dan Universitas (2001)
  • Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) di Kota Semarang, kerjasama dengan Dinas Pertanian Kota Semarang (2004 - 2006)
  • Rehabilitasi Lahan menggunakan Rumput Vetiver sebagai Vegetasi Penahan Longsor di Mluweh Kabupaten Semarang, kerjasama dengan ProLH GTZ (2006 – 2007)
  • Konservasi Tanaman Langka melalui Pengembangan Tanaman Obat di Kelurahan Bergas, kerjasama dengan GEF (2010 – 2011)
  • Konservasi DAS Garang untuk Pembangunan Berkelanjutan, kerjasama dengan ERCA-FOE Japan (2012-sekarang)

Pengelolaan Sampah dan Limbah
  • Pengolahan Limbah Industri Kecil Tahun di Sungai Bajak Semarang, kerjasama dengan JICA, KITA-ECC, and Pemerintah Kota Semarang (2001-2004)
  • Desentralisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Bukit Kencana Jaya Semarang, kerjasama dengan ProLH GTZ dan Pemerintah Kota Semarang (2005 - 2006)
  • Pengembangan Pengomposan dengan Metode Takakura di Semarang dan Jawa Tengah (2006 – now)
  • Pendampingan Masyarakat untuk Program Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di beberapa kelurahan Kota Semarang kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (2007 - 2009)
  • Penerapan dan Pengembangan Produksi Bersih untuk Industri Kecil kerjasama dengan ProLH-GTZ (2007 - 2009)
  • Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah untuk Meningkatkan Lingkungan yang Higenis pada Daerah Miskin Perkotaan di Kota Semarang, kerjasama dengan KITA-ECC Jepang (2008 – 2010)

Pengelolaan Pesisir
  • Konservasi Mangrove di Pesisir Kota Semarang, Kerjasama dengan Masyarakat Tapak Tugurejo (2000 – sekarang)
  • Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan melalui Konservasi Mangrove di Kota Semarang, kerjasama dengan Dinas Pertanian Kota Semarang (2004 - 2006)
  • Adaptasi Perubahan Iklim berbasis Partisipasi Masyarakat melalui Pengelolaan Pesisir yang Berkelanjutan di Kota Semarang, kerjasama dengan FoE Japan (2008 - sekarang)
  • Inisiasi Pembentukan Kelompok Kerja Mangrove Kota Semarang sebagai Bagian dari Advokasi Kebijakan Pesisir di Kota Semarang, bekerjasama dengan FoE Jepang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang (2009 - sekarang)
  • Upaya Adaptasi terhadap Dampak Perubahan Iklim oleh Masyarakat Pesisir melalui Pembangunan Alat Penahan Ombak dengan Ban Bekas di Tapak Tugurejo, Semarang kerjasama dengan Mercy Corps dan Pemerintah Kota Semarang (2010)
  • Pengembangan Pusat Pendidikan Mangrove di Kota Semarang, bekerjasama dengan FoE Jepang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang (2010 – 2011)
  • Peningkatan Ketahanan Masyarakat Pesisir melalui Penguatan Jasa Lingkungan Ekosistem Mangrove dan Penghidupan Aternatif Masyarakat Kota Semarang, kerjasama dengan Tim Kota Semarang dengan Mercy Corps (2013-2016)

Perubahan Iklim
  • Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim berbasis Masyarakat melalui Wanatani yang Berkelanjutan di Kabupaten Semarang, kerjasama dengan ERCA (Environmental Restoration and Conservation Agency) (2008-sekarang)
  • Rain Water Harvesting, Program Jejaring Kota Berketahanan Asia (ACCCRN) kerjasama dengan Tim Kota Semarang dan Mercy Corps Indonesia (2010-2011)
  • Penyusunan Profil Emisi Gas Rumah Kaca, Profil Dampak Perubahan Iklim dan Rencana Terpadu Perubahan Iklim Kabupaten Semarang, kerjasama dengan IUCCE dan GIZ-PAKLIM (2014)
  • Penyusunan Profil Emisi Gas Rumah Kaca , Profil Dampak Perubahan Iklim dan Rencana Terpadu Perubahan Iklim Kabupaten Kudus (2014)

Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana
  • Rehabilitasi Sosial melalui Pengembangan Pendidikan Bencana di Kabupaten Klaten, kerjasama dengan JICA & AusAid (2006 – 2008)
  • Flood Early Warning System DAS Bringin, Program Jejaring Kota Berketahanan Asia (ACCCRN) kerjasama dengan Tim Kota Semarang dan Mercy Corps Indonesia (2012-2014)

Pendidikan Lingkungan
  • Peningkatan Kapasitas untuk Kader Lingkungan Hidup di Kota Semarang, kerjasama dengan KITA-ECC Jepang (2002 - 2008)
  • Pelatihan Pendidikan Lingkungan untuk Guru SD di DAS Babon, kerjasama dengan ProLH GTZ (2004 - 2006)
  • Penelitian dan Pembuatan Buku Dampak Perubahan Iklim dan Adaptasi di Tingkat Masyarakat, kerjasama dengan FoE (Friends of Earth) Japan didukung oleh JFGE (Japan Fund for Global Environment) (2007 – 2008)
  • Penelitian tentang Pembelajaran Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan yang Baik di Asia, kerjasama dengan Education for Sustainable Development Japan (ESD-J) dan Toyota Foundation (2006 – 2008)/li>
  • Program Eco-Mobile untuk Sekolah di Kabupaten Semarang, kerjasama dengan PT. Coca Cola (2010)

Services

Pengelolaan Limbah dan Sampah

Pencemaran lingkungan oleh limbah dan sampah merupakan permasalahan lingkungan yang selalu berkembang dan membutuhkan berbagai inovasi untuk menjawabnya. Kami telah bekerja untuk sector ini dan berupaya mengembangkan berbagai metode sesuai dengan konteks dimana permasalahan tersebut muncul. Skala pengelolaan, kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat menjadi pertimbangan kami membangun upaya pengelolaan sampah bersama masyarakat. Berbagai upaya peningkatan kesadaran dan kapasitas juga kami lakukan agar para pihak semakin memiliki kepedulian dalam menangani permasalahan ini.

Pengelolaan Pesisir

Pesisir merupakan wilayah yang sangat rentan. Wilayah ini secara langsung mengalami tiga tekanan secara langsung yakni dari pembangunan setempat, dampak dari wilayah hulu serta dampak dari perubahan iklim. Bukan hanya degradasi lingkungan, perubahan sistem sosial ekonomi masyarakat setempat seringkali terabaikan. Kantong kumuh dan kemiskinan seringkali ditemui pada wilayah pesisir khususnya perkotaan.
Hampir satu dekade kami bergerak di dalam pengelolaan pesisir dimulai dengan aktivitas rehabilitasi mangrove serta pengembangan ekonomi masyarakat setempat berdasar prinsip penghidupan berkelanjutan. Pengembangan ekosistem mangrove yang terpulihkan sebagai destinasi eko eduwisata serta peningkatan rantai ekonomi hasil pesisir berbasis masyarakat merupakan pendekatan yang kami lakukan.

Kesiapsiagaan Bencana

Keterlibatan kami dalam kebencanaan bermula sejak peristiwa gempa Yogyakarta pada 2006 silam. Peningkatan tren kebencanaan hidrometeorologis yang ditengarai juga merupakan dampak dari perubahan iklim mendorong kami untuk bergerak mendorong kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis bersama bencana.

Perubahan Iklim

Bekerja bersama masyarakat dan menghadapi permasalahan lingkungan, membuat kami menyadari bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang nyata. Bukan hanya bekerja dengan masyarakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui aksi mitigasi dan adaptasi, kami juga mempromosikan upaya menghadapi perubahan iklim kepada para pihak. Dalam banyak kesempatan, kami mendukung dan memfasilitasi pemerintah daerah untuk dapat menyusun strategi dan rencana aksi dalam menghadapi perubahan iklim.

Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sumberdaya Air

Permasalahan degradasi DAS merupakan salah satu permasalahan lingkungan klasik dan dinamis. Degradasi DAS dan permasalahan pengelolaan sumberdaya air selama ini dikelola secara sektoral sehingga seringkali menjadi bersifat mutually exclusive. Kami mencoba mengembangkan berbagai praktik terbaik di tingkat tapak, sekaligus membangun sinergitas para pihak untuk menemukan solusi bersama atas permasalahan degradasi DAS dan sumberdaya air.