Kajian Loss and Damage Dampak Perubahan Iklim di Pekalongan

Perubahan iklim ditengarai dipicu oleh pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Aktifitas manusia dalam penggunaan bahan bakar fosil, pembukaan lahan dan penggundulan hutan merupakan beberapa aktifitas yang secara signifikan meningkatkan konsentrasi GRK. Peningkatan temperatur bumi ini kemudian merubah sistem iklim. Kenaikan suhu, perubahan curah hujan, cuaca esktrem, dan kenaikan air laut merupakan fenomena-fenomena perubahan iklim yang saat ini semakin kuat intensitasnya.

Menghadapi dampak perubahan iklim melalui upaya mitigasi dan adaptasi terus dilakukan baik di oleh berbagai pihak termasuk BINTARI, akan tetapi perubahan iklim tetap memberikan dampak kepada masyarakat. Di negara-negara berkembang, lebih dari 95% kematian disebabkan karena bencana alam dan iklim dalam kurung 25 tahun terakhir. Menurut Global Reinsurance Company Munich Re, kerugian langsung ekonomi dua kali lipat di negara miskin dibanding negara kaya. 250 juta orang terkena dampak perubahan iklim setiap tahunnya. Merespon fakta tersebut, hal ini sangat penting untuk pemerintah daerah mengetahui kerugian dan kerusakan (loss and damage) akibat perubahan iklim baik fenomena yang terjadi dalam jangka panjang maupun kejadian-kejadian bencana secara eksidental. Dengan demikian, pemerintah dapat memahami dan membuat perencanaan di kemudian hari berdasarkan pada dampak-dampak perubahan iklim yang dialami oleh masyarakat.

Loss and Damage telah muncul dalam dekade terakhir sebagai isu kunci di bawah Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Konsep ini sudah diperkenalkan selama negosiasi yang memuncak di pembentukan Konvensi pada awal 1990-an, namun Loss and Damage pertama kali muncul dalam dokumen UNFCCC dalam Rencana Aksi Bali. Sebuah program kerja untuk lebih memahami Loss and Damage dibangun di bawah Kerangka Adaptasi Cancun pada COP 16 di tahun 2010 (UNFCCC, 2011), sebagai akibat dari pengakuan bahwa diperlukan upaya yang lebih untuk meningkatkan pemahaman dan meningkatkan koordinasi aksi serta memobilisasi dukungan untuk negara-negara berkembang dalam menghadapi perubahan iklim. Dua tahun kemudian sejak negosiasi di Doha, diputuskan bahwa akan dibentuk pengaturan kelembagaan formal untuk mengatasi Loss and Damage. Pada tahun 2013, Mekanisme Warsawa International untuk Loss and Damage terkait dengan Dampak Perubahan Iklim (WIM) dibentuk melalui Cancun Adaptation Framework. Pada 2015 di Paris, para pihak memutuskan bahwa Mekanisme Warsawa Internasional akan terus ada sebagai tubuh untuk mengatasi Loss and Damage.

Pantai utara Pulau Jawa adalah wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim, pada kenyataannya, sebanyak 65% dari populasi Pulau Jawa tinggal di wilayah pesisir dan mereka sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas sumber daya pesisir. Penduduk di wilayah pesisir juga mengandalkan pendapatan dari sektor perikanan baik dari budidaya maupun nelayan tangkap. Di Indonesia, suhu udara di daerah pesisir utara Jawa telah meningkat setiap tahun, di mana ada peningkatan 0,0004-0,4 ° C / tahun dan diperkirakan akan meningkat hingga 100 tahun ke depan hingga mencapai antara 0,5 sampai 4 ° C (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2009).

Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan serta beberapa daerah lainnya merupakan wilayah di Pesisir Utara Pulau Jawa yang terkena dampak perubahan iklim. Kedua wilayah yang tergabung dalam Pekalongan Raya tersebut memiliki karakteristik dampak perubahan iklim yang hampir sama, terutama di wilayah pesisir. Wilayah Utara Kabupaten dan Kota Pekalongan sangat rentan terhadap terjadinya rob. Tujuh kelurahan diantaranya terdapat di Kecamatan Pekalongan Utara.  Pada tahun 2012 di Kabupaten Pekalongan tercatat 100 hektar lahan tergenang rob dan tahun 2013 genangan tersebut telah mencapai 197,5 hektar. Adapun sebarannya berada di tiga kecamatan, meliputi Kecamatan Tirto, Wonokerto dan Siwalan. Beberapa kajian kerentanan yang telah dilakukan di Pekalongan Raya bekerjasama dengan berbagai pihak juga menunjukkan bahwa wilayah pesisir Pekalongan Raya rentan terhadap kenaikan suhu, kenaikan permukaan laut dan intensitas curah hujan yang tinggi. Banjir yang terjadi di Kecamatan Pekalongan Utara menyebabkan tidak hanya kerusakan fisik tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Menurut data Kesbangpolinmas Kota Pekalongan tahun 2010-2011 dalam Mardiatno, Djati et.al, jumlah rumah yang terdampak banjir dan rob di Kecamatan Pekalongan Utara sejumlah 7.279 rumah terdampak banjir dan 6.157 rumah terdampak rob. Sementara itu, sebagai daerah yang mempunyai area pegunungan dan pantai, ancaman bencana yang ada di Kabupaten Pekalongan yaitu longsor, banjir, angin ribut dan kebakaran. Bencana-bencana tersebut merupakan bencana iklim yang sejak tahun 2006 mengalami kenaikan jumlah kejadian setiap tahunnya.

Perhitungan kerugian dan kehilangan (loss and damage) sebagai skema baru upaya menghadapi perubahan iklim yang dilakukan oleh Bintari melalui dukungan Friend of Earth (FoE) Japan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pembangunan di Pekalongan Raya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *